新闻是有分量的

Kepala BNPT:Sekitar 53 WNI di Irak telah kembali ke Indonesia

2016年10月28日下午5:34发布
2016年10月28日下午5:39更新

普朗。 Badan Nasional Penanggulangan Terorisme(BNPT)memprediksi sebanyak 53 WNI yang sempat berjuang bersama ISIS di Irak telah pulang ke Indonesia。 Ilustrasi oleh Rappler

普朗。 Badan Nasional Penanggulangan Terorisme(BNPT)memprediksi sebanyak 53 WNI yang sempat berjuang bersama ISIS di Irak telah pulang ke Indonesia。 Ilustrasi oleh Rappler

雅加达,印度尼西亚 - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme(BNPT)Suhardi Alius mengatakan ada sekitar 53 warga Indonesia yang telah kembali ke Tanah Air usai bergabung dengan kelompok radikal di Irak。 Mereka pulang karena beberapa kota di Irak termasuk Mosul yang semula dikuasai Negara Islam Irak dan Suriah(ISIS)mulai direbut oleh tentara pemerintah。

Suhardi mengatakan pemerintah sudah menyiapkan langkah antisipasi agar mereka tidak menyebarkan paham radikal ke Indonesia。

“Kami tengah mencoba menggarap program dengan 17 kementerian dan menetapkan apa yang menjadi porsi masing-masing kementerian。 Pendekatan terhadap mereka dilakukan baik secara hard approach atau soft approach ,“ujar Suhardi yang ditemui di Istana Negara usai berdiskusi dengan Presiden Joko”Jokowi“Widodo pada Jumat,28 Oktober。

Beberapa pendekatan lunak yang diterapkan antara lain dengan menjadikan anak-anak dari para jihadis sebagai anak asuh dan pemberian pelatihan kewirausahaan bagi keluarga mereka。 Suhardi mengatakan pemerintah juga tidak akan memarjinalkan anak-anak dari mantan teroris sebab hal tersebut justru memicu tumbuhnya radikalisme di pemikiran mereka。

“Anak-anak itu nantinya bisa lebih militan dibanding orang tuanya yang sudah terlanjur menjadi radikal,”kata dia。

Suhardi juga terpikir untuk menggandeng mantan-mantan pimpinan kelompok jihad yang telah bertaubat untuk melakukan proses deradikalisasi。 Sebab,langkah itu dinilai lebih efektif。

“Karena kalau kami(pemerintah)yang bicara belum tentu didengar。 Tapi,kalau sudah mantan pimpinan jihad yang bicara pasti didengar,“kata dia。

Suhardi juga menyebut personil BNPT tidak bisa begitu saja memeriksa puluhan WNI yang kembali dari Irak tanpa melalui prosedur yang jelas。 BNPT baru bisa menangkap mereka jika sudah beraksi。

“Kalau enggak (melakukan apa-apa)yang kita juga enggak bisa berbuat apa-apa,karena yang mereka bawa(dari Irak)paham loh yang tidak bisa di lihat karena ada di dalam kepala,”kata pria yang pernah menjabat sebagai Kabareskrim di Mabes Polri itu。

Namun,untuk mencegah,personil BNPT tetap melakukan tahapan pemantauan dan pendekatan。

Selain 53 orang yang diduga telah kembali,sebanyak 70 WNI lainnya diperkirakan telah meninggal dalam peperangan。 BNPT juga menyebut masih ada sekitar 400 WNI yang berada di Irak dan Suriah serta menjadi bagian kelompok teroris。

Peran keluarga

Berdasarkan informasi yang diperoleh oleh BNPT mayoritas pelaku tindakan teror berusia antara 15-30 taun。 Sebab,mereka masih mencari jati diri sehingga mudah dipengaruhi oleh kelompok radikal melalui media sosial。 (BACA: )

“Maka peranan orang tua untuk peduli dan memperhatikan anak-anaknya dalam menggunakan media sosial sangat penting。 Peran lainnya yang dinilai cukup penting yakni para guru dan dosen untuk ikut mengamati jika anak-anak didik mereka mulai memisahkan diri,“kata Suhardi。

Dia menjelaskan ketika sudah mulai memisahkan diri,maka dengan mudah doktrin-doktrin bisa disusupi ke pemikiran anak-anak tersebut。 - Rappler.com